Program buyback atau jaminan pembelian kembali dinilai dapat membantu merek motor listrik baru bersaing dengan pabrikan besar. Skema ini memberi kepastian kepada konsumen bahwa kendaraan yang dibeli masih memiliki nilai saat mereka ingin menjualnya atau beralih ke motor lain.
Wakil Ketua Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Prabowo Kartoleksono, mengatakan buyback dapat meredakan keraguan calon pembeli terhadap merek yang belum memiliki pasar motor bekas sekuat merek konvensional. Konsumen biasanya lebih mudah memperkirakan harga jual kembali produk dari merek yang sudah lama dikenal.
Adapun pembeli motor listrik dari merek yang relatif baru mungkin belum memiliki gambaran mengenai nilai kendaraannya setelah digunakan beberapa tahun. Ketidakpastian itu, menurut Prabowo, bisa menjadi salah satu pertimbangan sebelum mereka memutuskan membeli.
Jaminan nilai jual kembali untuk konsumen
Dalam detikcom Leaders Forum bertajuk “Memperkuat Industri Kendaraan Listrik, Mendorong Ketahanan Energi” di Jakarta pada 20 Oktober 2026, Prabowo menyebut buyback sebagai salah satu cara efektif bagi merek baru menghadapi pemain lama. Jaminan tersebut tidak harus berarti motor akan dibeli kembali dengan harga tinggi.
“Meski harganya tidak tinggi, konsumen punya kenyamanan karena tahu motornya masih punya nilai ketika sudah bosan atau ingin menggantinya,” kata Prabowo.
Kepastian itu dapat memberi konsumen gambaran tentang pilihan mereka setelah masa pemakaian tertentu. Jadi, pertimbangan membeli tidak hanya berhenti pada harga dan kondisi motor saat pertama kali digunakan, tetapi juga mencakup kemungkinan menjualnya kembali.
Bagi merek yang belum memiliki jaringan pasar seken kuat, mekanisme tersebut berpotensi menjadi pembeda. Konsumen tak perlu sepenuhnya mengandalkan perkiraan harga pasar bekas yang belum terbentuk, karena produsen menawarkan jalur pembelian kembali.
Motor bekas bisa direkondisi dan dijual lagi
Skema buyback juga berpeluang memberi manfaat bagi produsen. Unit yang ditarik dari konsumen dapat diperiksa, diperbaiki, lalu dipasarkan kembali sebagai motor bekas. Dengan begitu, kendaraan yang masih layak tidak harus berhenti digunakan setelah pemilik pertamanya memutuskan mengganti motor.
Prabowo menjelaskan, kebutuhan perbaikan motor listrik berbeda dari motor berbahan bakar bensin. Komponen yang perlu mendapat perhatian antara lain baterai dan bodi kendaraan. Setelah pemeriksaan dan perbaikan, motor yang kondisinya masih memenuhi kebutuhan pasar dapat ditawarkan kembali di pasar sekunder.
“Bagi manufaktur, motor yang dibeli kembali bisa direkondisi. Kondisi motor bensin dan motor listrik berbeda. Biasanya yang perlu diperbaiki pada motor listrik antara lain baterai dan bodinya, kemudian kendaraan itu bisa dijual lagi di pasar sekunder,” ujar Prabowo.
Pengelolaan unit bekas dengan cara tersebut dapat memperpanjang siklus penggunaan kendaraan. Produsen memperoleh kesempatan untuk mengurus kembali motor yang pernah dijual, sementara konsumen mendapat opsi ketika ingin mengganti kendaraan.
Kepercayaan terhadap program perlu dibuktikan
Meski menjanjikan, program buyback tidak otomatis menghapus keraguan konsumen. Kepercayaan terhadap jaminan pembelian kembali perlu dibangun dari pelaksanaan yang nyata. Konsumen harus dapat melihat bahwa ketentuan yang ditawarkan bukan sekadar janji pemasaran, melainkan benar-benar bisa digunakan.
Prabowo menilai produsen perlu menunjukkan bukti bahwa konsumen dapat merealisasikan jaminan tersebut. Proses itu membutuhkan waktu, terutama bagi merek baru yang belum memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola motor bekas maupun transaksi pembelian kembali.
“Kalau ada buyback guarantee, keraguan konsumen bisa berkurang. Namun, memang butuh waktu untuk membangunnya karena harus ada bukti atau evidence,” tuturnya.
Bagi industri motor listrik, tantangannya bukan hanya menawarkan program, tetapi memastikan mekanismenya dapat dipahami dan dijalankan. Jika konsumen memperoleh kepastian dan unit bekas dapat dikelola dengan baik, buyback berpeluang menjadi salah satu cara merek baru membangun kepercayaan di tengah persaingan dengan pabrikan yang lebih mapan.
