Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengundurkan diri ketika perang dengan Amerika Serikat belum berakhir dan tekanan terhadap ekspor minyak Teheran terus berlangsung. Kantor kepresidenan Iran mengumumkan pengunduran diri itu pada Minggu, 4 Oktober 2026, dengan alasan pribadi yang tidak dirinci. Presiden Masoud Pezeshkian menunjuk Hamid Bovard sebagai pelaksana tugas menteri.
Paknejad telah memimpin kementerian tersebut sejak Agustus 2024. Pengunduran dirinya menandai pergantian pejabat di salah satu posisi penting pemerintah Iran, pada saat negara itu menghadapi tekanan ekonomi akibat perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
Hamid Bovard ditunjuk sebagai pelaksana tugas
Hamid Bovard, yang sebelumnya memimpin Perusahaan Minyak Nasional Iran, perusahaan milik negara, ditetapkan sebagai pelaksana tugas Menteri Perminyakan. Penunjukan itu disampaikan oleh Mehdi Tabatabaei, deputi komunikasi kantor kepresidenan Iran, dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah IRIB.
“Dengan diterimanya pengunduran diri Mohsen Paknejad oleh Dr Pezeshkian, maka Hamid Bovard telah ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Perminyakan,” kata Tabatabaei pada Minggu, sebagaimana dikutip media pemerintah.
Kantor kepresidenan menyatakan Paknejad mundur karena alasan pribadi. Tidak ada penjelasan lebih jauh mengenai alasan tersebut. Tabatabaei mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa Paknejad sebenarnya sudah mengajukan pengunduran diri sejak lama.
Menurut keterangan yang disampaikan dalam siaran berita Iran, permohonan mundur Paknejad sebelumnya sempat ditolak. Pezeshkian kala itu meminta sang menteri tetap menjalankan tugasnya. Namun, presiden akhirnya menerima keputusan Paknejad setelah ia bersikeras ingin berhenti.
Pengunduran diri terjadi saat ekspor minyak tertekan
Waktu pengunduran diri Paknejad menjadi perhatian karena terjadi di tengah perang Iran dengan Amerika Serikat yang belum menunjukkan tanda berakhir. Konflik tersebut telah berlangsung selama tujuh bulan dan menambah tekanan ekonomi yang dihadapi Teheran.
Washington disebut memblokade ekspor minyak Iran dalam beberapa waktu terakhir. Dalam situasi itu, keberlangsungan pemasukan dari penjualan minyak menjadi hal penting bagi pemerintah Iran. Meski demikian, kantor kepresidenan tidak menyatakan bahwa blokade atau perang menjadi alasan Paknejad mengundurkan diri.
Sebelum kabar pengunduran dirinya muncul, Paknejad sempat dikutip media pemerintah Iran berbicara mengenai pemasukan minyak. “Pendapatan dari minyak yang telah kita jual masih terus masuk dan hal itu akan terus berlanjut, insya Allah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan sebelum pengumuman resmi mengenai pergantian menteri. Sementara itu, keterangan pemerintah tetap menempatkan alasan pribadi sebagai dasar pengunduran diri, tanpa merinci kapan Paknejad pertama kali mengajukan permohonan atau apa yang melatarbelakanginya.
Presiden apresiasi pengabdian Paknejad
Kantor kepresidenan menyebut Pezeshkian mengapresiasi upaya dan pengabdian Paknejad selama menjabat. Presiden akhirnya menyetujui pengunduran diri tersebut setelah permintaan itu diajukan kembali dengan keteguhan dari Paknejad.
Dengan penunjukan Bovard, kendali sementara Kementerian Perminyakan berada di tangan pejabat yang sebelumnya memimpin perusahaan minyak nasional Iran. Pengumuman yang tersedia belum menjelaskan berapa lama Bovard akan menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas atau kapan pengganti definitif akan ditetapkan.
Peralihan ini berlangsung ketika perang dan pembatasan ekspor minyak menjadi tantangan bagi Iran. Untuk saat ini, pemerintah menyampaikan dua hal yang berbeda: Paknejad mundur atas alasan pribadi, sementara perubahan kepemimpinan terjadi di tengah tekanan ekonomi dan konflik yang belum usai. Perkembangan berikutnya, termasuk penetapan menteri definitif, akan memperjelas arah pengelolaan sektor minyak Iran.
