Kasus Diare di Kota Jogja Capai 15.086 dalam 10 Bulan

Kesehatan

Kasus diare di Kota Yogyakarta tercatat mencapai 15.086 hingga periode pelaporan 4–10 Oktober 2026. Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) itu mencakup pasien yang tercatat di puskesmas maupun rumah sakit. Ngampilan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena kepadatan penduduknya.

Dari total kasus tersebut, 7.283 tercatat di puskesmas, sedangkan 7.803 lainnya tercatat di rumah sakit. Angka itu menjadi sorotan di tengah perhatian terhadap kualitas air bersih, kebersihan makanan, perilaku hidup bersih, dan kondisi sanitasi lingkungan.

Jumlah kasus sepanjang 2025 tercatat lebih tinggi, yakni 20.234. Meski demikian, angka pada 2026 menunjukkan diare masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama karena faktor lingkungan dan kepadatan permukiman dapat memengaruhi risiko penularan.

Data diare di puskesmas dan rumah sakit

Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, menjelaskan diare merupakan kondisi buang air besar dengan tinja cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam 24 jam. Kondisi itu berlangsung kurang dari 14 hari.

“Diare dapat terjadi sebagai gejala dari penyakit tertentu,” kata Endang kepada wartawan, Rabu, 21 Oktober 2026. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa diare merupakan kondisi yang dapat berkaitan dengan penyakit lain, sehingga pemantauan kasus dan perhatian terhadap kesehatan lingkungan tetap diperlukan.

Data SKDR membedakan pencatatan pasien di fasilitas layanan kesehatan. Sebanyak 7.283 kasus tercatat di puskesmas dan 7.803 kasus di rumah sakit. Angka dari kedua jenis fasilitas tersebut membentuk total 15.086 kasus yang dilaporkan hingga periode tersebut.

Perbandingan dengan catatan sepanjang 2025 memberi gambaran mengenai besarnya kasus yang pernah tercatat di kota itu. Namun, angka 15.086 pada 2026 berasal dari periode pelaporan yang disebutkan dalam data, sehingga perlu dibaca sesuai rentang waktu pencatatannya.

Kepadatan penduduk dan perhatian terhadap sanitasi

Dinkes menilai sanitasi lingkungan yang memadai, ketersediaan air bersih, serta fasilitas jamban yang layak merupakan faktor penting dalam pencegahan diare. Hal-hal tersebut perlu diperhatikan di Kota Yogyakarta, yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dan wilayah permukiman yang beragam.

Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah 32,819 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 415.779 jiwa. Kepadatan penduduknya mencapai 12.668 jiwa per kilometer persegi. Ngampilan disebut sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk paling tinggi, meski data yang tersedia tidak merinci angka kasus diare khusus di wilayah tersebut.

Kepadatan permukiman menjadi salah satu alasan pentingnya memperhatikan kebersihan lingkungan dan akses terhadap fasilitas sanitasi. Risiko penularan diare perlu dicermati di kawasan berpenduduk padat, sementara kondisi air bersih dan kebersihan makanan juga menjadi bagian dari perhatian pencegahan.

Data kependudukan dan kasus tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa kepadatan menjadi penyebab langsung seluruh kasus diare. Namun, Dinkes menempatkan sanitasi, ketersediaan air bersih, kebersihan makanan, dan perilaku hidup bersih sebagai aspek yang berkaitan dengan upaya mengurangi risiko penyakit.

Diare masih menjadi ancaman kesehatan anak

Perhatian terhadap diare juga berkaitan dengan dampaknya pada kelompok usia anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 menyebut diare sebagai penyebab kematian ketiga terbesar pada anak berusia di bawah lima tahun.

WHO memperkirakan penyakit tersebut bertanggung jawab atas kematian sekitar 443.832 anak setiap tahun. Angka itu memperlihatkan mengapa upaya pencegahan melalui perbaikan kesehatan lingkungan tetap penting, termasuk memastikan sanitasi dan akses air bersih menjadi perhatian.

Di Kota Yogyakarta, pemantauan kasus melalui SKDR memberikan gambaran tentang pasien yang tercatat di fasilitas kesehatan. Langkah berikutnya adalah menjaga perhatian terhadap faktor-faktor lingkungan yang telah disoroti Dinkes, terutama di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi. Data kasus dan kondisi sanitasi dapat menjadi pijakan untuk menilai kebutuhan pencegahan di masing-masing wilayah.