Operasional Bandara Riyadh, Arab Saudi, dihentikan sementara setelah kelompok Houthi menyerang fasilitas penerbangan sipil itu pada Sabtu sore, 10 Oktober 2026. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 309 lainnya, menurut keterangan otoritas penerbangan sipil yang dikutip sejumlah media.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyebut bandara menjadi sasaran di tengah rangkaian serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil kerajaan. Dalam pernyataannya, otoritas itu mengatakan sejumlah orang terluka, sementara jumlah korban masih didata. Angka korban kemudian dilaporkan mencapai 309 orang.
Penghentian operasional dilakukan setelah serangan terjadi. Belum ada keterangan lebih lanjut dalam laporan mengenai kapan layanan bandara akan kembali berjalan. Di saat yang sama, kedutaan sejumlah negara meminta warga mereka menjauhi lokasi dan mengikuti instruksi keamanan setempat.
Korban serangan Houthi berasal dari sejumlah negara
Dua belas korban tewas berasal dari berbagai kewarganegaraan. Empat di antaranya merupakan warga Arab Saudi, sementara dua lainnya warga Bangladesh. Masing-masing satu korban tercatat sebagai warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Keragaman asal korban menunjukkan bahwa serangan di bandara tersebut berdampak pada warga dari sejumlah negara. Otoritas penerbangan sipil menyatakan 309 orang lainnya terluka. Laporan yang tersedia tidak merinci tingkat luka maupun identitas para korban yang selamat.
Serangan itu juga mendorong sejumlah perwakilan diplomatik mengeluarkan peringatan keamanan. Kedutaan Inggris, Kanada, Jerman, Spanyol, dan Amerika Serikat mengimbau warga masing-masing untuk menghindari Bandara Riyadh. Mereka juga meminta warga mematuhi arahan keamanan dari otoritas setempat.
Kedutaan Besar Spanyol menyampaikan peringatan melalui platform X. Dalam pesannya, kedutaan menyebut adanya “serangan baru” oleh kelompok Houthi terhadap bandara tersebut. Sebelumnya, sejumlah saksi mata mengatakan kepada AFP bahwa perintah evakuasi telah dikeluarkan di lokasi.
Trump pertimbangkan keterlibatan Amerika Serikat
Serangan terhadap bandara itu turut memicu respons Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia mengatakan pemerintahannya akan segera mempertimbangkan apakah akan bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap kelompok Houthi, yang didukung Iran.
Trump menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan di Gedung Putih setelah mengetahui serangan terbaru. “Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui tentang serangan terkini itu, jadi kami akan mengambil keputusan,” ujarnya, seperti dikutip AFP.
Ia kemudian menambahkan, “Kami bertindak sangat cepat.” Pernyataan tersebut belum menjadi pengumuman bahwa Amerika Serikat telah memutuskan untuk bergabung dalam serangan Saudi. Trump menyebut keputusan masih akan dipertimbangkan.
Perkembangan itu menempatkan serangan terhadap Bandara Riyadh dalam sorotan lebih luas, di tengah kemungkinan perubahan sikap Washington terhadap konflik tersebut. Namun, berdasarkan keterangan yang tersedia, keputusan Amerika Serikat belum ditetapkan dan operasional bandara masih dihentikan sementara.
Imbauan keamanan bagi warga di Riyadh
Bagi warga asing di Arab Saudi, pesan dari sejumlah kedutaan menegaskan pentingnya menjauhi bandara sampai ada arahan lebih lanjut. Imbauan itu disampaikan menyusul serangan dan laporan mengenai evakuasi di lokasi. Warga diminta mengikuti instruksi keamanan setempat, bukan mendatangi area yang menjadi sasaran.
Otoritas penerbangan sipil belum menyampaikan waktu pembukaan kembali Bandara Riyadh dalam laporan tersebut. Sementara pendataan korban dan perkembangan keamanan berlangsung, penumpang dan warga yang berkepentingan dengan bandara perlu memperhatikan pengumuman resmi. Situasi selanjutnya juga akan bergantung pada langkah otoritas Saudi dan keputusan yang diambil pemerintah Amerika Serikat.
