Free Palestine Tour, rangkaian konser solidaritas yang digagas rapper Amerika Serikat Macklemore, langsung ludes terjual dalam 24 jam setelah penjualan tiket dibuka. Tiga pertunjukan pertamanya akan digelar di Dublin, Paris, dan London pada akhir Oktober 2026, dengan seluruh keuntungan penjualan tiket direncanakan disalurkan kepada organisasi kemanusiaan yang membantu warga Palestina.
Macklemore mengumumkan tiket yang habis terjual itu melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu, 30 September 2026. Ia mengaku tak menyangka respons terhadap konser yang disiapkan dalam waktu singkat tersebut begitu besar.
“Tiga konser pertama langsung sold out. Sejujurnya saya sungguh tidak menyangka,” tulis Macklemore.
Konser ini menjadi langkah mandiri Macklemore setelah namanya dicoret dari daftar penampil pembuka tur Ed Sheeran. Di tengah polemik tersebut, penjualan yang cepat habis membuat rencana pertunjukan solidaritasnya mendapat perhatian luas.
Tiga konser pembuka digelar di Eropa
Gelombang pertama Free Palestine Tour dijadwalkan menyambangi Dublin di Irlandia, Paris di Prancis, dan London di Inggris. Ketiga kota itu menjadi lokasi pertunjukan pada akhir Oktober 2026. Setelah rangkaian Eropa, Macklemore berencana membawa tur tersebut ke sejumlah kota di Amerika Serikat, meski kota dan jadwal lanjutannya belum dirinci dalam pengumuman yang dikutip.
Macklemore menyampaikan terima kasih kepada para penggemar di tiga kota yang lebih dulu masuk dalam jadwal. Ia juga menempatkan konser ini sebagai upaya menggalang dana sekaligus menyatakan dukungan bagi Palestina.
“Kami menyiapkan konser ini dalam waktu singkat bersama komunitas, didorong keyakinan bahwa musisi mampu berdiri bersolidaritas untuk Palestina—menggunakan panggung untuk menggalang dana serta menunjukkan kekuatan aksi kolektif. Seni akan selalu menjadi bentuk perlawanan,” katanya.
Seluruh keuntungan dari penjualan tiket, menurut informasi yang disampaikan, akan diberikan kepada berbagai organisasi kemanusiaan yang berfokus membantu warga Palestina. Tidak ada rincian mengenai nilai donasi maupun organisasi penerima yang disebutkan dalam laporan tersebut.
“Dublin, Paris, dan London, terima kasih telah hadir dan menunjukkan dukungan,” ujar Macklemore. Ia menyebut sambutan itu sebagai pengingat bahwa banyak orang di berbagai belahan dunia mendukung Palestina yang merdeka.
Polemik pencoretan dari tur Ed Sheeran
Pengumuman tur independen itu muncul enam hari setelah Macklemore meluncurkan rencananya, pada 24 September 2026. Sebelumnya, ia dicoret dari daftar penampil pembuka Loop Tour Ed Sheeran. Pencoretan tersebut terjadi setelah Macklemore menyampaikan orasi politik yang mendukung kemerdekaan Palestina di atas panggung.
Keputusan itu memicu reaksi dari sejumlah musisi yang dijadwalkan tampil bersama Sheeran di kawasan Amerika Serikat dan Amerika Latin. Finneas, kakak sekaligus produser Billie Eilish, grup Lukas Graham, Beoga, dan Aaron Rowe disebut memilih mundur dari rangkaian tur tersebut sebagai bentuk solidaritas kepada Macklemore.
Ed Sheeran kemudian menjelaskan bahwa keputusan mengakhiri keterlibatan Macklemore dibuat oleh promotor tur, bukan atas perintah pribadinya. Saat tampil di Philadelphia pada 19 September 2026, ia menyampaikan permintaan maaf terbuka di hadapan penonton.
“Saya harus mengambil keputusan-keputusan sulit dan saya mengakui telah melakukan kesalahan. Saya sungguh meminta maaf,” kata Sheeran.
Sheeran juga mengatakan dirinya tidak pernah berniat menjadi musisi aktivis, tetapi situasi itu menyeretnya ke perdebatan mengenai kebebasan berbicara. Ia menyebut peristiwa 7 Oktober di festival Nova sebagai hal mengerikan, sekaligus mengatakan kondisi di Gaza merupakan bencana yang tidak dapat dibenarkan dan sangat tidak proporsional.
Konser sebagai ruang solidaritas
Bagi Macklemore, pertunjukan ini bukan sekadar rangkaian jadwal musik. Ia secara terbuka menghubungkan panggung dengan penggalangan dana dan dukungan terhadap warga Palestina. Ia juga menilai sikap apolitis tidak lagi menjadi pilihan di tengah situasi kemanusiaan yang disebutnya sebagai genosida.
Respons cepat terhadap penjualan tiket menjadi awal bagi tur yang baru diumumkan tersebut. Perhatian berikutnya akan tertuju pada pelaksanaan tiga konser di Eropa dan penyaluran keuntungan kepada organisasi kemanusiaan. Sementara jadwal Amerika Serikat masih menunggu pengumuman, tur ini menunjukkan bagaimana sebuah pertunjukan dapat sekaligus menjadi panggung musik dan pernyataan solidaritas.
