Blackout meluas di Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (12/10/2026) pukul 06.37 WIB. PT PLN Batam menyebut dugaan awal gangguan berasal dari hewan liar yang masuk ke area Gardu Induk Sungai Harapan. Namun, penyebab pasti pemadaman masih ditelusuri.
Sekretaris Perusahaan PLN Batam Rudi Antono mengatakan, gangguan di gardu induk itu berdampak pada pasokan listrik di sejumlah wilayah. Tim teknis dan pihak berwenang masih memeriksa kejadian tersebut, sehingga dugaan masuknya hewan liar belum dapat dipastikan sebagai kesimpulan akhir.
“Berdasarkan indikasi awal, gangguan diduga dipicu oleh masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan yang menyebabkan gangguan pada instalasi kelistrikan hingga berdampak pada pasokan listrik di sejumlah wilayah,” kata Rudi.
PLN pulihkan pasokan listrik secara bertahap
Setelah gangguan terjadi, tim teknis dan operasional PLN Batam menjalankan pemulihan secara bertahap. Pekerjaan mencakup pemeriksaan dan penormalan pembangkit, sinkronisasi unit pembangkit, serta pemulihan jaringan transmisi dan distribusi.
Menurut Rudi, proses pemulihan menunjukkan perkembangan signifikan sejak Senin malam. Seluruh gardu induk dan jaringan transmisi yang terdampak berhasil dinormalkan, lalu pemulihan dilanjutkan ke jaringan distribusi. Pasokan kepada pelanggan yang terdampak kemudian kembali menyala.
Data PLN menunjukkan, hingga Selasa pukul 04.00 WIB, pasokan untuk 98 persen pelanggan sudah menyala. Pada saat yang sama, 99 persen beban yang sempat padam telah dipulihkan. Seluruh gardu induk dan jaringan transmisi di Batam juga telah kembali beroperasi.
PLN menyatakan tahapan pemulihan dilakukan dengan memperhatikan keselamatan, kestabilan, dan keandalan sistem. Petugas teknis dan operasional tetap disiagakan untuk memantau kondisi kelistrikan setelah pasokan kembali normal.
Dampak blackout merembet ke aktivitas warga
Pemadaman juga berpengaruh pada kegiatan masyarakat dan layanan lain. Informasi yang dihimpun sejumlah media menyebut Satlantas Polresta Barelang melakukan rekayasa arus lalu lintas untuk mencegah kemacetan akibat blackout.
Gangguan listrik turut berdampak pada pasokan air. Sebagian warga dilaporkan mencari air ke waduk hingga minimarket ketika aliran terganggu. BP Batam menyebut normalisasi air setelah gangguan listrik membutuhkan waktu sekitar enam hingga sembilan jam.
Di sisi lain, BP Batam turun langsung mendampingi dunia usaha selama pemadaman. Dampak berlapis ini memperlihatkan bahwa gangguan listrik berskala luas tidak hanya dirasakan oleh pelanggan di rumah, tetapi juga dapat memengaruhi layanan dan kegiatan usaha.
PLN Batam menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan selama proses pemulihan. Perusahaan juga mengapresiasi kesabaran dan dukungan masyarakat selama pasokan listrik dinormalkan.
Kompensasi pelanggan menunggu evaluasi layanan
PLN Batam menyatakan akan memenuhi hak pelanggan atas mutu pelayanan. Jika gangguan melampaui standar Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) atau Service Level Agreement (SLA) yang diperjanjikan, pelanggan akan menerima kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Untuk pelanggan reguler, kompensasi disebut sebesar 10 persen dari biaya beban bulanan. Ketentuan itu mengacu pada Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 22 Tahun 2017. PLN belum menyebut dalam keterangan tersebut apakah gangguan kali ini telah memenuhi ambang pemberian kompensasi.
Penelusuran penyebab gangguan masih berlangsung, sementara pemantauan sistem terus dilakukan untuk menjaga kontinuitas pasokan. Hasil pemeriksaan di Gardu Induk Sungai Harapan akan menjadi bagian penting untuk memastikan pemicu blackout dan mencegah gangguan serupa terulang.
