Gencatan Energi Rusia-Ukraina Tekan Harga Minyak

Ekonomi

Harga minyak dunia melemah pada Senin, 12 Oktober 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Rusia dan Ukraina menyepakati penghentian serangan terhadap fasilitas energi. Kabar gencatan senjata energi itu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan, meski sejumlah risiko geopolitik masih membayangi.

Minyak Brent untuk kontrak pengiriman Desember turun 0,77 persen menjadi US$ 103,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November terkoreksi 1,26 persen ke US$ 90,96 per barel, mengutip data yang dilaporkan CNBC.

Trump menyampaikan pengumuman tersebut melalui media sosial. Ia menyebut gencatan senjata energi mulai berlaku dan meminta kedua pihak tidak melanggarnya.

“Mulai sekarang, gencatan senjata energi diberlakukan dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua pihak telah menyetujuinya. Jangan melanggarnya!” kata Trump.

Gencatan senjata energi jadi perhatian pasar

Pengumuman itu berfokus pada penghentian serangan terhadap fasilitas energi, bukan pernyataan mengenai berakhirnya perang secara keseluruhan. Bagi pasar minyak, perkembangan tersebut penting karena serangan terhadap infrastruktur energi berpotensi mengganggu produksi maupun aliran pasokan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan dukungan terhadap gencatan senjata itu. Namun, ia juga menegaskan bahwa Rusia perlu ikut mendukung upaya tersebut. Pernyataan Zelensky itu menunjukkan bahwa pelaksanaan kesepakatan masih menjadi hal yang perlu dicermati, terutama karena pengumuman mengenai persetujuan kedua pihak disampaikan Trump.

Respons harga minyak mencerminkan harapan bahwa risiko gangguan pasokan dari perang Rusia-Ukraina dapat berkurang. Jika fasilitas energi tidak lagi menjadi sasaran, pasar memiliki alasan untuk memperkirakan pasokan lebih terjaga. Meski begitu, penurunan pada hari itu belum menghapus ketidakpastian yang berasal dari konflik lain dan kondisi produksi di wilayah pemasok utama.

Rencana pasokan diesel Rusia menambah harapan

Ekspektasi pasokan juga dipengaruhi oleh kesepakatan energi antara Washington dan Moskow. Trump sebelumnya mengatakan Rusia akan memasok lebih dari 4 juta ton diesel ke pasar global. Pernyataan itu disampaikan setelah percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Jumat, 9 Oktober 2026.

Prospek tambahan pasokan dapat memberi tekanan pada harga, terutama jika pengiriman benar-benar terealisasi. Namun, besarnya pasokan yang dijanjikan belum dengan sendirinya menjamin perubahan kondisi pasar. Pelaku pasar masih perlu memperhatikan pelaksanaan kesepakatan dan perkembangan distribusi energi.

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah menjadi penahan bagi penurunan harga yang lebih dalam. Kantor berita pemerintah Arab Saudi melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan bin Abdullah. Keduanya membahas meningkatnya ketegangan kawasan dan langkah untuk meredakannya. Araghchi juga menyampaikan kesiapan Iran membantu mendorong dialog antara Arab Saudi dan Houthi Yaman.

Konflik dan badai masih membayangi harga minyak

Risiko terhadap pasokan belum sepenuhnya surut. Riset UOB memperkirakan harga minyak masih berpotensi bergejolak dalam jangka pendek, antara lain karena konflik AS-Iran dan dampak Badai Isaias terhadap produsen energi Amerika Serikat.

Badai Isaias dilaporkan menguat menjadi kategori 3 dengan kecepatan angin 120 mil per jam saat mendekati Pantai Teluk AS. Kondisi itu mendorong produsen energi mengurangi produksi lepas pantai. Jika pengurangan berlangsung, pasokan dari kawasan tersebut dapat tertekan dan memberi dukungan kembali pada harga.

Serangan Houthi terhadap bandara Riyadh pada Sabtu juga menambah premi risiko di pasar. Dalam risetnya, UOB menyebut serangan itu menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Peristiwa tersebut, bersama laporan serangan terhadap kapal tanker di kawasan, menjadi pengingat bahwa gangguan jalur dan fasilitas energi masih menjadi perhatian pedagang.

Dengan demikian, arah harga minyak dalam waktu dekat akan ditentukan oleh dua perkembangan yang bergerak berlawanan: harapan pasokan lebih besar setelah gencatan energi dan potensi gangguan akibat konflik serta cuaca ekstrem. Pasar akan mencermati apakah kesepakatan Rusia-Ukraina bertahan dan bagaimana dampak badai terhadap produksi AS. Selama kedua faktor itu belum terang, pergerakan harga minyak kemungkinan tetap sensitif terhadap kabar terbaru.