Kemitraan Kamera Smartphone: Peran Hasselblad hingga ARRI

Teknologi

Kemitraan kamera smartphone flagship kini tak hanya soal menempelkan logo merek ternama di bodi ponsel. Hasselblad, Zeiss, Leica, dan ARRI memiliki fokus berbeda dalam kolaborasi dengan produsen ponsel, mulai dari kalibrasi warna dan pengembangan optik hingga pendekatan perekaman video sinematik.

Perbedaan itu penting dipahami konsumen. Nama besar pada modul kamera tidak otomatis menunjukkan jenis kontribusi yang sama: ada yang menekankan karakter warna, ada yang berfokus pada kejernihan optik, sementara kolaborasi lain mengarah pada estetika foto atau video kelas sinema.

Di tengah persaingan ponsel flagship yang tak lagi semata-mata mengandalkan angka megapiksel dan ukuran sensor, kemitraan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman visual yang lebih khas. Peran setiap mitra pun perlu dilihat dari apa yang benar-benar dikerjakan bersama produsen ponsel.

Hasselblad dan Zeiss: warna serta kualitas optik

Jejak Hasselblad di dunia kamera ponsel bermula dari modul lensa eksternal Moto Z pada 2016. Merek fotografi asal Swedia itu kemudian bermitra dengan OnePlus pada 2021. Pada masa tersebut, salah satu fokus kolaborasi adalah Natural Color Calibration, yakni pengujian untuk menghasilkan reproduksi warna yang akurat dan natural.

Kolaborasi dengan OnePlus juga menghadirkan antarmuka Pro Mode bergaya perangkat lunak Hasselblad Phocus. Setelah kerja sama itu berakhir, OPPO mengambil alih pemanfaatan teknologi Hasselblad di tingkat korporat. Arah kemitraannya bergeser dari penyesuaian perangkat lunak menuju pengembangan sistem pencitraan perangkat keras yang lebih lanjut.

Zeiss memiliki sejarah panjang dalam kamera ponsel. Perusahaan ini menjadi pionir kemitraan kamera smartphone sejak masa Nokia pada pertengahan 2000-an. Setelah kerja sama dengan HMD Global atau Nokia berakhir pada 2021, Zeiss melanjutkan kolaborasi dengan Sony dan membangun laboratorium riset bersama Vivo.

Fokus Zeiss disebut berada pada efisiensi optik, kejernihan elemen lensa, serta pengurangan distorsi cahaya atau flare. Dengan demikian, kontribusinya berbeda dari pendekatan Hasselblad yang antara lain menaruh perhatian pada kalibrasi warna dan pengalaman pemotretan.

Leica membawa estetika foto ke ponsel Xiaomi

Leica mengakhiri kerja sama dengan Huawei pada 2022 dan kemudian mengalihkan fokus kolaborasinya ke Xiaomi. Kemitraan ini dinilai integratif karena keterlibatan Leica dimulai sejak tahap awal perancangan arsitektur kamera ponsel, bukan hanya pada penyesuaian akhir.

Kerja sama Xiaomi dan Leica tidak berhenti pada upaya menghasilkan gambar yang tajam. Keduanya juga membawa estetika fotografi khas Leica ke dalam pengalaman kamera ponsel. Pendekatan itu memberi perhatian pada karakter visual foto, sehingga kolaborasi ini memiliki cakupan berbeda dari fokus optik Zeiss maupun kalibrasi warna Hasselblad.

Bagi pengguna, perbedaan tersebut dapat menjadi pertimbangan saat memilih perangkat. Namun, nama mitra saja belum cukup untuk menilai hasil kamera secara menyeluruh. Informasi mengenai fokus kerja sama memberi gambaran tentang arah pengembangan, tetapi konsumen tetap perlu melihat kebutuhan fotografi yang ingin dipenuhi.

ARRI dan arah baru video sinematik HONOR

ARRI berasal dari dunia sinematografi profesional, bukan fotografi still atau foto diam. Karena itu, kemitraannya dengan HONOR menghadirkan arah yang berbeda dibandingkan kerja sama Hasselblad, Zeiss, dan Leica. Kolaborasi tersebut disebut sebagai langkah awal ARRI di industri ponsel pintar melalui Cinematic Imaging Partnership.

Fokus utamanya adalah ekosistem perekaman video dengan pendekatan kelas sinema. Dengan kata lain, kerja sama ini menempatkan pengalaman merekam video sebagai perhatian utama, bukan semata-mata kualitas foto. Informasi tersebut menandai perbedaan tujuan yang cukup jelas di antara empat kemitraan kamera smartphone yang dibahas.

Ke depan, persaingan kamera flagship kemungkinan semakin ditentukan oleh karakter hasil gambar dan jenis pengalaman yang ditawarkan, bukan hanya spesifikasi di atas kertas. Konsumen dapat mencermati fokus kolaborasi tiap merek—warna, optik, estetika foto, atau video sinematik—agar pilihan ponsel lebih sesuai dengan cara mereka berkarya dan mengabadikan momen.