Valor Mortis memadukan aksi first-person Soulslike dengan latar Eropa era Napoleon yang dilanda wabah dan kehancuran. Dalam ulasan The Lazy Media, game buatan One More Level ini dinilai punya premis menarik, visual atmosferis, serta traversal yang menonjol—meski daya tariknya kemungkinan lebih kuat bagi pemain yang menyukai pendekatan Soulslike.
One More Level dikenal sebagai pengembang Ghostrunner. Jejak itu menjadi alasan untuk menaruh perhatian pada unsur platforming di Valor Mortis, sementara sudut pandang orang pertama memberi cara berbeda untuk menjelajahi dunia yang porak-poranda. Hasilnya bukan sekadar kisah perang, melainkan petualangan dalam lanskap yang menyimpan banyak petunjuk tentang tragedi yang telah terjadi.
Kisah prajurit Napoleon yang bangkit di tengah wabah
Pemain berperan sebagai William Dowsett, prajurit setia tentara Napoleon yang gugur di medan perang. Ia kemudian dibangkitkan secara misterius oleh roh Napoleon Bonaparte. Namun, Eropa yang ia temui setelah kembali dari kematian sudah berubah menjadi daratan penuh kehancuran dan mayat.
Perubahan itu berkaitan dengan Crimson Plague, wabah mematikan yang dipicu zat misterius bernama Nephtoglobin. Para korbannya dapat berubah menjadi Eternal Guard, makhluk menyerupai zombi yang menggerogoti kesadaran manusia. Nephtoglobin juga mengalir dalam darah William, tetapi dampaknya berbeda: zat itu memberinya kekuatan misterius melalui tangan kiri.
Kekuatan tersebut membuat William mampu memanipulasi energi mutasi. Ia juga bertambah kuat setiap kali mengalami kematian. Seiring perjalanan, ingatannya yang sempat hancur pulih sedikit demi sedikit. Pertanyaan tentang penyebab kehancuran Eropa dan alasan William dibangkitkan menjadi benang merah yang mendorong pemain menelusuri dunia game.
William tidak sendirian. Ia berinteraksi dengan sejumlah karakter dan kelompok, termasuk sekutunya James Stewart, sosok bernama Lucjan, serta agen perlawanan bawah tanah. Lokasi yang dijelajahi dan kepingan memori yang ditemukan turut mengantarkan cerita menuju jawaban yang baru terungkap setelah permainan ditamatkan.
Lingkungan kelam menjadi kekuatan utama
Menurut ulasan Rio Chibet di The Lazy Media, gagasan cerita Valor Mortis terasa menarik karena menggunakan era Napoleon sebagai latar bagi kisah Soulslike yang tidak biasa. Cerita juga menyentuh hubungan antara kepemimpinan dan pemujaan, sekaligus memperlihatkan perubahan sudut pandang seorang prajurit yang mulai memahami alasan di balik perang yang selama ini ia jalani.
Namun, penyampaian kisah yang paling efektif justru datang dari lingkungan. Tumpukan mayat, bangunan yang hancur, dan sisa-sisa pertempuran membangun suasana suram sekaligus memberi gambaran mengenai bencana yang menimpa Eropa. Pemain dapat menangkap jejak tragedi masa lalu dari tempat-tempat yang dilewati, tanpa hanya bergantung pada narasi langsung.
Pengisahan melalui lingkungan itu menjadi salah satu aspek yang paling diapresiasi dalam ulasan tersebut. Dunia game tidak hanya berfungsi sebagai latar perjalanan William, tetapi juga menyimpan kisah kelam yang terjadi sebelum ia kembali hidup. Bagi pemain yang senang merangkai petunjuk dari suasana dan lokasi, pendekatan ini memberi alasan untuk memperhatikan detail di sepanjang perjalanan.
Traversal first-person dan performa permainan
Dibangun menggunakan Unreal Engine 5, Valor Mortis menampilkan pencahayaan dan tekstur yang dinilai detail. Desain lingkungannya ikut memperkuat kesan mencekam, terutama saat pemain melintasi reruntuhan dan sisa-sisa peperangan. Ulasan The Lazy Media menyebut performanya secara umum stabil dan teroptimasi dengan baik.
Gangguan teknis tetap muncul, meski jumlahnya terbatas. Penulis ulasan menyebut karakter sempat tersangkut di pojokan sekitar satu hingga dua kali. Masalah itu tidak sampai merusak pengalaman menamatkan game, tetapi menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan kecil.
Traversal menjadi sorotan lain karena permainan menggunakan sudut pandang orang pertama. Pengaruh pengalaman One More Level menggarap Ghostrunner terasa pada variasi platforming yang dijumpai sepanjang permainan. William dapat bergelayutan menggunakan tali, melompati celah berbahaya, hingga merayap melewati ruang sempit.
Perpaduan latar sejarah, wabah, dan Soulslike memberi Valor Mortis identitas yang cukup jelas. Ulasan yang tersedia menonjolkan cerita, atmosfer, dan eksplorasi sebagai kekuatannya, dengan beberapa gangguan teknis kecil sebagai catatan. Bagi calon pemain, kecocokan akhirnya bergantung pada minat terhadap pendekatan Soulslike dan kesediaan menjelajahi dunia yang menyampaikan banyak kisah lewat lingkungannya.
