Demo Prancis Meluas ke Italia hingga Albania

Dunia

Gelombang demonstrasi yang dipicu kenaikan biaya hidup di Prancis meluas ke Italia, Belgia, Portugal, dan Albania pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Aksi di negara-negara itu memiliki tuntutan berbeda, tetapi sejumlah demonstrasi berujung bentrokan dengan polisi.

Di Prancis, unjuk rasa menentang mahalnya kebutuhan hidup dan penurunan kualitas layanan publik berlangsung di sejumlah kota. Aksi yang dipelopori sejumlah pelajar SMA itu berubah rusuh di beberapa wilayah. Kelompok garis keras merusak fasilitas publik, menjarah butik mewah dan supermarket, serta menyerang kendaraan dan petugas kepolisian.

Kerusuhan juga menempatkan pemerintah Prancis di bawah tekanan. Presiden Emmanuel Macron mengakui adanya kegagalan dalam antisipasi dan intelijen, tetapi menolak pengunduran diri Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez. Hampir 2.400 orang ditangkap setelah demonstrasi nasional tersebut.

Kerusuhan dan penangkapan di sejumlah kota Prancis

Di Marseille, sekelompok demonstran berpakaian hitam menerobos masuk ke balai kota dan mencoret dinding dengan grafiti bernuansa anarkis. Gedung balai kota di Limoges dilaporkan dibakar, sementara kantor dinas pariwisata di Lyon juga menjadi sasaran pembakaran.

Skala kerusuhan itu mendorong perhatian terhadap kesiapan aparat dalam mengantisipasi aksi. Istana Elysee menyebut Macron mengecam kegagalan antisipasi dan intelijen setelah demonstrasi pada 17 Oktober berubah menjadi kekacauan. Namun, Presiden Prancis itu tetap mempertahankan Nunez di tengah desakan politisi oposisi agar menteri tersebut dicopot.

Gelombang protes tidak berhenti di Prancis. Italia, Belgia, dan Portugal juga menghadapi demonstrasi yang dipicu tekanan biaya hidup, sedangkan aksi di Albania menyoroti dugaan korupsi pemerintah, terbatasnya lapangan kerja, serta buruknya standar pendidikan.

Italia dan Belgia diwarnai bentrokan

Di Milan, demonstran yang memprotes tingginya biaya hidup terlibat bentrokan dengan polisi. Aparat menembakkan gas air mata setelah massa melemparkan batu. Bentrokan berlanjut pada Minggu, 18 Oktober, ketika sebagian demonstran kembali melempari polisi dan menjarah pertokoan.

Polisi antihuru-hara menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan ratusan orang di sekitar Piazza Duomo. Kerusuhan serupa terjadi di Bologna, tempat aparat juga mengerahkan meriam air. Secara keseluruhan, 28 demonstran ditangkap dalam bentrokan di Milan, Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam kekerasan tersebut. Ia menegaskan bahwa demonstrasi merupakan hak, tetapi mengubah kota menjadi medan pertempuran bukan bagian dari hak itu.

Di Brussels, Belgia, ratusan demonstran—sebagian besar anak muda—turun ke jalan pada Sabtu. Aksi yang sebagian terinspirasi oleh demonstrasi di Prancis itu menentang kenaikan biaya pendidikan dan reformasi yang dikhawatirkan membuat perguruan tinggi semakin sulit dijangkau. Sejumlah demonstran meneriakkan slogan anti-fasis, bahkan ada yang menggulingkan sebuah mobil. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.

Portugal dan Albania membawa tuntutan berbeda

Di Lisbon, puluhan ribu orang berunjuk rasa menentang mahalnya biaya rumah dan kebutuhan hidup lainnya. Harga rumah di Portugal meningkat dua kali lipat sejak 2017, memicu krisis yang membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para demonstran menilai upah yang rendah tidak sebanding dengan ongkos perumahan dan kenaikan biaya hidup.

Unjuk rasa itu berlangsung setelah keresahan publik meningkat dalam beberapa hari sebelumnya. Di Porto, aktivis mendirikan kamp tenda yang kemudian dibubarkan polisi.

Sementara itu, demonstrasi di Albania dipimpin mahasiswa yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama. Massa memprotes dugaan korupsi pemerintah, kurangnya lapangan kerja, serta mutu pendidikan. Kepolisian dilaporkan sempat melepaskan peluru karet ke arah demonstran.

Kemlu diminta memantau keselamatan WNI

Meluasnya aksi tersebut mendorong Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta meminta Kementerian Luar Negeri meningkatkan perlindungan bagi warga negara Indonesia di negara-negara terdampak. Ia meminta kedutaan besar dan konsulat RI memantau situasi, berkoordinasi dengan otoritas setempat, serta menyampaikan informasi terbaru kepada WNI.

Perhatian khusus, menurut Sukamta, perlu diberikan kepada mahasiswa, pekerja migran, dan wisatawan Indonesia. Perwakilan RI juga diminta memastikan jalur komunikasi darurat mudah diakses dan bantuan konsuler dapat diberikan jika diperlukan.

Sukamta mengimbau WNI tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari perwakilan Indonesia, menghindari lokasi demonstrasi yang berisiko bentrok, serta mematuhi ketentuan otoritas setempat. Perkembangan protes di Eropa masih perlu dipantau, terutama karena tuntutan yang beragam—dari biaya hidup hingga persoalan pemerintahan—telah membawa massa ke jalan di sejumlah negara.