Survei Unggulkan Oposisi, Netanyahu Hadapi Ujian Berat

Dunia

Koalisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diproyeksikan kalah dari blok oposisi dalam jajak pendapat menjelang pemilihan parlemen pada 27 Oktober mendatang. Survei Channel 12 Israel memperkirakan oposisi meraih 67 kursi Knesset, sedangkan koalisi pemerintah memperoleh 49 kursi.

Di tengah angka tersebut, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee dilaporkan bertemu dengan pemimpin oposisi Gadi Eisenkot. Pertemuan tertutup itu berlangsung beberapa hari terakhir, kurang dari dua pekan sebelum pemilu, dan turut menyorot hubungan Washington dengan para tokoh politik Israel.

Namun, belum ada indikasi bahwa pertemuan Huckabee dengan Eisenkot menandakan perubahan dukungan resmi Amerika Serikat. Laporan yang dikutip Republika menyebut agenda pertemuan terpisah antara Huckabee dan Netanyahu dibatalkan, tetapi tidak menjelaskan alasan pembatalan ataupun memastikan kaitannya dengan pertemuan sang dubes dengan pemimpin oposisi.

Oposisi diproyeksikan unggul di Knesset

Survei yang dirilis Channel 12 pada Senin itu memberi gambaran tantangan yang dihadapi Netanyahu menjelang pemungutan suara. Dari total 120 kursi di Knesset, blok oposisi diperkirakan memperoleh 67 kursi. Koalisi pemerintahan diproyeksikan mendapat 49 kursi.

Angka tersebut menempatkan oposisi di atas ambang 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan. Meski demikian, hasil survei merupakan proyeksi dukungan pemilih, bukan hasil pemilu. Komposisi kursi sesungguhnya baru akan diketahui setelah pemungutan suara dan proses penghitungan berlangsung.

Persaingan juga terlihat pada tingkat partai. Yashar, partai yang dipimpin Eisenkot, diperkirakan meraih 23 kursi, sementara Likud, partai Netanyahu, diproyeksikan mendapat 20 kursi. Dalam pertanyaan mengenai siapa yang lebih layak menjadi perdana menteri, 45 persen responden memilih Eisenkot dan 35 persen memilih Netanyahu.

Hasil itu memperlihatkan bahwa Eisenkot bukan hanya tampil sebagai pesaing dalam perebutan kursi parlemen, tetapi juga unggul dalam pertanyaan langsung mengenai kepemimpinan. Namun, bahan laporan tidak merinci jumlah responden, metode survei, maupun margin kesalahan. Karena itu, angka-angka tersebut perlu dibaca sebagai potret dukungan pada saat survei dilakukan, bukan kepastian tentang hasil akhir.

Pertemuan Huckabee dan Eisenkot jadi sorotan

Lembaga penyiaran publik Israel melaporkan Huckabee dan Eisenkot membahas sejumlah persoalan keamanan. Topik yang disebut mencakup ketegangan di Tepi Barat yang diduduki Israel, kekerasan pemukim ilegal Yahudi terhadap warga Palestina, serta situasi di Jalur Gaza.

Laporan itu tidak menyebutkan lokasi dan tanggal pasti pertemuan. Huckabee maupun kantor Eisenkot juga tidak mengumumkannya secara terbuka. Partai Yashar, yang dipimpin Eisenkot, memilih tidak memberikan komentar, menurut laporan yang dikutip Palestine Chronicle.

Waktu pertemuan membuatnya mendapat perhatian. Agenda itu berlangsung menjelang pemilu Knesset, ketika jajak pendapat menunjukkan posisi oposisi menguat. Pada saat yang sama, pertemuan terpisah antara Huckabee dan Netanyahu dilaporkan batal pada menit-menit terakhir.

Sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebut Netanyahu sebagai pihak yang membatalkan pertemuan. Tidak ada keterangan mengenai alasan pembatalan dan belum ada jadwal pengganti. Laporan itu juga tidak mengaitkan pembatalan tersebut secara langsung dengan pertemuan Huckabee dan Eisenkot.

Belum ada kepastian soal sikap Washington

Rangkaian peristiwa itu memunculkan perhatian terhadap posisi Amerika Serikat menjelang kontestasi politik Israel. Meski begitu, pertemuan seorang duta besar dengan tokoh oposisi, tanpa penjelasan lebih jauh, belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Washington telah mengalihkan dukungan dari Netanyahu. Tidak ada pernyataan resmi mengenai perubahan kebijakan atau dukungan dalam laporan tersebut.

Di dalam negeri, Netanyahu menghadapi persaingan politik yang ketat setelah memimpin pemerintahan sejak Desember 2022. Koalisinya kerap digambarkan sebagai salah satu pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel. Jajak pendapat terbaru menambah tekanan, tetapi belum menjawab apakah keunggulan oposisi akan bertahan hingga hari pemungutan suara.

Pemilu 27 Oktober akan menjadi penentu apakah proyeksi survei berubah menjadi kekuatan nyata di parlemen. Hingga hasil resmi tersedia, pertemuan para tokoh dan pergeseran angka dukungan tetap menjadi petunjuk politik—bukan keputusan akhir mengenai siapa yang akan memimpin pemerintahan Israel berikutnya.