Dwi Bagus Martono tiba di Polda Jawa Timur dengan tangan terborgol pada Senin (26/10), sehari setelah ditangkap di wilayah Jombang. Ia dibawa untuk menjalani pemeriksaan lanjutan terkait kematian Dini Hardiyanti, 30 tahun, dan anak laki-lakinya yang berinisial AGEF, 4 tahun.
Ketika ditanya tentang motif pembunuhan, Bagus tidak memberikan jawaban. Ia hanya tertunduk dan terus berjalan saat penyidik mengarahkannya ke gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim. Kumparan melaporkan, ia tiba sekitar pukul 10.40 WIB.
Penangkapan tersebut menjadi perkembangan penting dalam penyidikan perkara yang melibatkan seorang perempuan dan anak asal Kabupaten Bogor. Namun, informasi yang disampaikan kepada publik saat Bagus tiba di Mapolda masih terbatas. Polisi belum memaparkan motif dalam keterangan yang dikutip Kumparan.
Ditangkap pada Minggu malam
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, mengatakan Bagus ditangkap di wilayah Kota Jombang pada Minggu (25/10) malam. Pernyataan itu disampaikannya kepada wartawan di Ditreskrimum Polda Jatim, Senin.
“Di wilayah Jombang Kota, tadi malam ya,” kata Jumhur.
Sesampainya di Polda, Bagus langsung dibawa menuju gedung Ditreskrimum. Ia mengenakan kaus biru dan celana pendek abu-abu. Setelah memasuki gedung, ia diarahkan naik menggunakan lift untuk menjalani proses pemeriksaan.
Bagus tidak menyampaikan apa pun kepada wartawan yang menanyakan alasan ia membunuh kedua korban. Sikap diam itu bukan penjelasan mengenai motif, yang hingga laporan tersebut diterbitkan belum diuraikan oleh polisi. Pemeriksaan lanjutan diharapkan menjadi bagian dari proses penyidik mengungkap perkara.
Laporan menyebut korban dan rangkaian kejadian
Dini dan AGEF disebut sebagai korban dalam kasus tersebut. Sejumlah laporan media memberi gambaran awal mengenai hubungan para korban dengan Bagus dan peristiwa sebelum pembunuhan. Kompas.com, misalnya, melaporkan Dini pergi ke Madiun untuk merayakan ulang tahun anaknya. Informasi itu menjadi salah satu bagian dari kronologi yang diberitakan, tetapi tidak menjelaskan sendiri apa yang terjadi setelah mereka tiba di sana.
Kumparan juga menyebut kasus ini sebagai pembunuhan terhadap istri siri Bagus dan anak tirinya. Dalam judul laporan lain, media tersebut menyatakan ada empat lokasi yang digunakan dalam rangkaian mutilasi hingga pembakaran. Penyebutan itu menggambarkan beratnya perkara, tetapi rincian lokasi maupun urutan kejadian tidak tersedia dalam keterangan penangkapan yang dikutip.
Berbagai detail tentang penanganan jasad turut beredar dalam pemberitaan, termasuk penggunaan penggiling daging. Informasi itu muncul pada judul laporan Kumparan, sementara saat Bagus tiba di Polda Jatim, ia tidak menjawab pertanyaan wartawan tentang motif. Karena itu, belum ada keterangan langsung darinya yang menjelaskan rangkaian tindakan tersebut.
Perbedaan antara laporan mengenai kronologi dan keterangan singkat kepolisian saat penangkapan perlu dibaca dengan cermat. Pernyataan Jumhur yang dikutip Kumparan menjelaskan tempat serta waktu penangkapan. Keterangan itu belum memuat penjelasan lengkap mengenai hubungan setiap lokasi dengan peristiwa, maupun bagaimana penyidik mengaitkan tersangka dengan kedua korban.
Pemeriksaan lanjutan menanti penjelasan polisi
Informasi yang tersedia saat itu juga menyebut Bagus merupakan lulusan teknik dari Institut Teknologi Bandung. Latar pendidikan tersebut tidak memberi penjelasan mengenai motif atau dugaan tindakannya, dan tidak disertai rincian lain dalam laporan yang sama. Fokus pemeriksaan tetap pada perkara yang menewaskan Dini dan AGEF.
Bagus dibawa ke Ditreskrimum Polda Jatim untuk pemeriksaan lanjutan setelah ditangkap di Jombang. Polisi belum menyampaikan motif kepada wartawan dalam laporan tersebut. Perkembangan selanjutnya bergantung pada hasil pemeriksaan dan keterangan resmi penyidik mengenai kronologi serta peran tersangka.
