Kendaraan BYD tidak diperbolehkan melintas di Pangkalan Udara Kadena, Okinawa, Jepang. Pembatasan oleh militer Amerika Serikat itu mencakup mobil pribadi, taksi, hingga kendaraan niaga, dengan alasan kekhawatiran terhadap keamanan fasilitas dan informasi sensitif di sekitarnya.
Kadena berada di Okinawa, pulau yang terletak sekitar 1.000 mil di barat daya Tokyo. Pangkalan tersebut merupakan salah satu fasilitas militer AS di Jepang. Sejauh ini, pejabat pangkalan belum menjelaskan secara terperinci pemicu teknis kebijakan tersebut.
Letnan Kolonel Alli Stormer dari pangkalan di Kadena menyebut kendaraan BYD berpotensi membawa risiko bagi personel dan kegiatan militer. “Kendaraan-kendaraan ini menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima dan tidak dapat dihindari bagi personel dan misi kami,” kata Stormer.
Kamera dan sensor kendaraan jadi perhatian
Meski tidak merinci teknologi atau kejadian tertentu yang mendasari pembatasan, laporan yang dikutip Carscoops menyoroti kamera dan sensor pada mobil modern. Perangkat semacam itu dinilai berpotensi menangkap informasi dari lingkungan sekitar, termasuk ketika kendaraan berada dekat instalasi militer.
Kekhawatiran tersebut tidak hanya berkaitan dengan mobil penumpang. Mobil, truk, dan SUV BYD disebut memiliki perangkat yang dapat mengamati keadaan di sekitarnya. Di kawasan pertahanan, kemampuan merekam atau mengumpulkan data dipandang sebagai risiko keamanan, sekalipun kendaraan itu digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Namun, tidak ada keterangan bahwa kendaraan BYD terbukti melakukan pengumpulan informasi militer. Penjelasan yang tersedia mengarah pada langkah pencegahan atas potensi risiko. Perbedaan ini penting: pembatasan tersebut mencerminkan penilaian keamanan pihak pangkalan, bukan bukti bahwa teknologi BYD telah digunakan untuk memata-matai fasilitas.
Aturan itu juga tidak terbatas pada kendaraan milik pribadi. Taksi yang memakai mobil BYD dan kendaraan komersial dari produsen China tersebut dilaporkan turut dilarang memasuki atau melintas di kawasan pangkalan. Dengan cakupan seperti itu, kebijakan menyentuh berbagai jenis aktivitas kendaraan di sekitar fasilitas Kadena.
BYD dalam sorotan keamanan teknologi
Pembatasan di Okinawa terjadi di tengah meningkatnya perhatian sejumlah negara terhadap hubungan antara teknologi otomotif dan keamanan data. Mobil modern dilengkapi perangkat elektronik dan konektivitas yang mendukung fungsi berkendara, tetapi kemampuan itu juga memunculkan pertanyaan tentang data yang dapat dikumpulkan dan bagaimana data tersebut dikelola.
Dalam konteks yang lebih luas, BYD disebut masuk dalam daftar perusahaan yang menurut Pentagon mendukung militer China. Nama lain yang disebut dalam daftar tersebut adalah Nio, Alibaba, dan Baidu. Informasi ini menjadi bagian dari latar ketegangan antara AS dan China, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan teknis khusus di balik pembatasan di Kadena.
Kendaraan merek China saat ini juga menghadapi hambatan untuk masuk ke pasar Amerika Serikat, termasuk tarif tinggi dan pembatasan perangkat lunak. Salah satu contoh yang disorot adalah Polestar, merek mobil listrik di bawah Geely. Polestar disebut akan keluar dari pasar AS setelah model tahun 2026 karena persoalan perangkat lunak, meskipun kendaraannya dibuat di pabrik di Ridgeville, Carolina Selatan.
Sejumlah anggota parlemen AS, menurut laporan tersebut, tengah mengupayakan undang-undang yang akan melarang kendaraan China masuk ke pasar Amerika secara permanen. Usulan itu menunjukkan bahwa perdebatan mengenai kendaraan, perangkat lunak, dan keamanan nasional melampaui kebijakan satu pangkalan militer.
China pernah membatasi kendaraan Tesla
Kekhawatiran tentang kendaraan modern juga pernah muncul di China. Pada 2021, kendaraan Tesla untuk sementara dilarang memasuki beberapa lokasi pemerintahan di negara itu. Pembatasan tersebut dicabut pada 2024 setelah Tesla buatan China memenuhi persyaratan keamanan data yang ditetapkan pemerintah setempat.
Perbandingan itu memperlihatkan bahwa pembatasan akses kendaraan ke fasilitas sensitif bukan isu yang hanya terjadi di satu negara atau terhadap satu merek. Pemerintah dan lembaga militer dapat menilai perangkat yang terpasang pada kendaraan sebagai bagian dari pertimbangan keamanan, terutama di area yang menyimpan informasi penting.
Bagi BYD, pembatasan di Kadena menjadi salah satu tantangan di tengah ekspansi global perusahaan, termasuk ke Indonesia. Belum ada penjelasan lebih lanjut dari pejabat pangkalan mengenai langkah berikutnya atau perubahan kebijakan. Perkembangan ini akan menjadi perhatian bagi industri otomotif, seiring negara-negara terus menyusun aturan tentang penggunaan kendaraan berteknologi tinggi di lingkungan sensitif.
