Pemilu Israel Buntu, Shekel dan Anggaran Tertekan

Ekonomi

Shekel berayun tajam saat hasil pemilu Israel belum memastikan siapa yang dapat membentuk pemerintahan. Mata uang itu sempat menguat hampir 2 persen terhadap dolar AS pada Selasa, 27 Oktober 2026, sebelum berbalik melemah keesokan harinya. Bagi pasar, ketidakpastian politik datang ketika Israel juga menghadapi tagihan perang yang besar dan rencana kenaikan belanja pertahanan.

Data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia mencatat shekel ditutup pada posisi 3,0541 per dolar AS pada Selasa, menguat sekitar 0,77 persen dari sehari sebelumnya. Dalam perdagangan hari itu, nilainya sempat mencapai 3,02 per dolar AS, level terkuat sejak 22 September. Namun, pada Rabu hingga pukul 10.20 WIB, shekel turun sekitar 0,94 persen ke 3,0832 per dolar AS.

Pergerakan tersebut mencerminkan perubahan harapan investor. Sebagian pelaku pasar sebelumnya memperkirakan pergantian pemerintahan dapat meredakan risiko politik. Hasil hitung cepat yang menunjukkan persaingan ketat menghidupkan kembali ketidakpastian. Meski naik-turun dalam dua hari, shekel masih menguat 3,15 persen sejak awal 2026.

Tak ada kubu yang mengantongi mayoritas

Pemilu pada Selasa itu merupakan pemungutan suara pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi ujian politik setelah perang di Gaza, persoalan keamanan, dan kebijakan pemerintah memicu tekanan di dalam negeri.

Partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, tertinggi sejak 1999, menurut Komite Pemilihan Umum Israel. Angka itu jauh di atas tingkat kehadiran pada pemilu 2022, yang berada di sekitar 70,6 persen. Namun, tingginya partisipasi belum menghasilkan pemenang dengan dukungan cukup untuk langsung memerintah.

Exit poll dari tiga jaringan televisi Israel memperkirakan kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot memperoleh 52 kursi, sedangkan koalisi Netanyahu meraih 50 kursi. Partai-partai Arab diproyeksikan mendapatkan 18 kursi. Angka itu masih berupa proyeksi, bukan hasil akhir penghitungan resmi.

Knesset memiliki 120 kursi dan sebuah koalisi membutuhkan setidaknya 61 kursi untuk menguasai mayoritas. Partai Likud pimpinan Netanyahu diperkirakan tetap menjadi partai dengan kursi terbanyak, tetapi kedua kelompok utama belum mencapai ambang tersebut. Partai-partai Arab berpotensi menentukan arah pembentukan pemerintahan, sementara Eisenkot selama ini enggan mengandalkan dukungan mereka.

CNN Indonesia melaporkan Netanyahu tetap menjalankan tugas sebagai perdana menteri sampai koalisi pemerintahan baru terbentuk. Dengan demikian, negosiasi setelah pemilu akan menjadi penentu berikutnya. Kebuntuan juga membuka kemungkinan proses politik yang panjang, sementara pasar menunggu kepastian mengenai susunan dan arah kebijakan pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi beriringan dengan beban perang

Ketidakpastian politik terjadi saat kondisi ekonomi Israel menunjukkan dua sisi. Sektor teknologi, terutama keamanan siber dan layanan digital, masih menarik investasi. Investasi asing langsung mencapai rekor 26,2 miliar dollar AS pada 2025, naik 78 persen dibandingkan tahun sebelumnya. CNBC Indonesia mengaitkan kenaikan itu dengan akuisisi besar, termasuk pembelian Wiz oleh Alphabet dan CyberArk oleh Palo Alto Networks.

Trading Economics mencatat ekonomi Israel tumbuh 2,9 persen pada 2025, setelah bertambah 1 persen pada 2024. Proyeksi pertumbuhan untuk 2026 berada di 3,5 persen. Namun, angka pertumbuhan agregat itu tidak menggambarkan dampak konflik secara merata, dan sektor teknologi yang menarik modal asing tidak serta-merta mencerminkan keadaan semua kegiatan ekonomi.

Tekanan paling nyata terlihat pada keuangan negara. Bank of Israel memperkirakan biaya fiskal perang sepanjang 2023-2026 mencapai sekitar 350 miliar shekel, setara kurang lebih Rp2.052 triliun berdasarkan kurs yang dicantumkan CNBC Indonesia. Perkiraan itu belum memasukkan keputusan belanja untuk operasi militer terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026. Sekitar separuh biaya perang tersebut dibiayai dengan utang.

Pemerintah juga mempertimbangkan tambahan belanja hingga 25 miliar shekel, yang dapat membawa anggaran pertahanan menjadi 183 miliar shekel. Sementara itu, rasio utang terhadap produk domestik bruto tercatat naik dari 67,7 persen menjadi 68,5 persen. Trading Economics memproyeksikan rasio tersebut dapat mencapai 76 persen pada 2026.

Perbedaan antara angka terkini dan proyeksi itu penting: keduanya menggambarkan titik waktu yang tidak sama. Data lain yang dicatat Trading Economics menunjukkan pengangguran meningkat dari 2,8 persen menjadi 3 persen, sedangkan inflasi bergerak dari 1,5 persen ke 1,6 persen. Jika kebutuhan militer terus menyerap anggaran, pemerintah berikutnya harus menentukan cara membiayainya tanpa mengabaikan kebutuhan lain.

Untuk saat ini, hasil akhir pemilu dan proses perundingan koalisi menjadi perkembangan yang paling ditunggu. Arah pemerintahan baru akan ikut menentukan bagaimana Israel membagi ruang fiskal antara pertahanan dan kebutuhan ekonomi, sementara investor mencermati apakah ketidakpastian politik mereda atau berlanjut.