Mengapa Bill Gates dan China Memburu Lahan Pertanian AS

Ekonomi

Bill Gates dan pihak China sama-sama memiliki lahan pertanian di Amerika Serikat. Kesamaan langkah itu disorot penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, yang menilai lahan produktif layak diperhatikan investor karena berkaitan dengan kebutuhan pangan yang terus ada.

Dalam sebuah video di Instagram, Kiyosaki mengatakan kepemilikan lahan pertanian oleh dua pihak dengan kepentingan berbeda seharusnya memunculkan pertanyaan. Menurut dia, ketika dua kekuatan besar mengarah pada aset yang sama, investor patut mencari tahu alasan di baliknya.

“Bill Gates membeli lahan pertanian. China membeli lahan pertanian,” ujar Kiyosaki. Ia menegaskan, pandangannya bukan sekadar ajakan mengikuti langkah investasi seorang miliarder. Yang menjadi perhatian, katanya, adalah kepemilikan atas aset yang menopang kebutuhan dasar masyarakat.

Besarnya kepemilikan lahan pertanian AS

Angka kepemilikan yang disebut dalam laporan memperlihatkan skala investasi tersebut. Menurut Land Report, Gates memiliki sekitar 275.000 ekar lahan di berbagai wilayah Amerika Serikat. Dari jumlah itu, sekitar 250.000 ekar merupakan lahan pertanian yang sangat produktif.

Sementara itu, laporan yang dikutip menyebut kepemilikan lahan pertanian AS oleh pihak China melampaui 380.000 ekar. Kiyosaki menyatakan pembelian tersebut mencakup ratusan ribu ekar dan kerap dilakukan melalui entitas berlapis serta struktur kepemilikan jangka panjang.

Ia menyebut pembelian lahan oleh Gates dan pihak China bukan kebetulan, melainkan langkah strategis. Namun, bahan laporan tersebut tidak merinci tujuan masing-masing pemilik maupun bentuk pengelolaan lahan yang mereka miliki. Kiyosaki juga mengingatkan bahwa minat terhadap aset pertanian tidak terbatas pada dua nama itu.

Menurut dia, dana pensiun, perusahaan asuransi, dan dana kekayaan negara turut menempatkan modal pada aset semacam ini. Kiyosaki menilai lembaga-lembaga tersebut tidak semata mengejar tren, tetapi berupaya melindungi modal melalui kepemilikan aset yang memiliki fungsi ekonomi nyata.

Pangan dan tekanan terhadap sumber daya

Alasan utama yang diajukan Kiyosaki berpusat pada pangan. Apa pun yang terjadi pada suku bunga, pemilihan umum, maupun harga saham, masyarakat tetap membutuhkan makanan. Karena itu, ia memandang lahan pertanian sebagai aset yang terkait langsung dengan kebutuhan yang tidak mudah tergantikan.

“Pangan kini menjadi hal yang strategis. Delapan miliar orang perlu makan setiap hari. Tidak ada alternatif, tidak ada pengganti,” kata Kiyosaki. Pernyataan tersebut menjadi dasar pandangannya bahwa lahan produktif memiliki daya tarik yang berbeda dari aset yang nilainya sangat bergantung pada tren pasar.

Ia juga menyoroti tekanan pada sumber daya untuk menghasilkan pangan. Lahan subur, menurut Kiyosaki, semakin menyusut; air semakin langka; lapisan tanah atas menghilang; dan rantai pasokan rentan. Tekanan itu, dalam pandangannya, menambah arti strategis lahan pertanian yang masih produktif.

Kiyosaki menggambarkan perpindahan modal ke aset nyata sebagai respons ketika sistem menghadapi tekanan. Ia mengatakan modal akan mencari aset yang menghasilkan arus kas, memenuhi kebutuhan dasar, dan dapat bertahan melewati perubahan kebijakan maupun siklus keuangan. Lahan pertanian, menurutnya, memenuhi sejumlah kriteria tersebut.

Potensi hasil dan risiko yang perlu dicermati

Lahan pertanian dapat memberikan imbal hasil melalui kegiatan produksi maupun penyewaan. Pemilik juga berpotensi memperoleh kenaikan nilai lahan. Kombinasi itu membuat aset tersebut memiliki fungsi ekonomi langsung, bukan hanya bergantung pada harapan menjualnya kembali kepada pembeli lain.

Meski demikian, penjelasan Kiyosaki dalam laporan itu merupakan pandangan mengenai alasan sejumlah investor tertarik pada lahan pertanian, bukan jaminan bahwa investasi tersebut selalu menguntungkan. Uraian yang tersedia tidak membahas biaya pengelolaan, kondisi tiap bidang tanah, maupun risiko yang dapat memengaruhi hasil investasi.

Karena itu, besarnya kepemilikan Gates dan pihak China dapat menjadi bahan untuk memahami arah perhatian investor institusional, tetapi tidak dengan sendirinya menjadi rekomendasi bagi investor perorangan. Kiyosaki menyarankan masyarakat mengamati bagaimana pemilik modal besar menempatkan uangnya, seraya menekankan bahwa aset tersebut dipilih karena dinilai nyata, produktif, dan tangguh.

Di tengah tekanan pada sumber daya dan kebutuhan pangan yang terus berlangsung, lahan pertanian diperkirakan tetap menjadi perhatian investor. Bagi siapa pun yang mempertimbangkan aset ini, memahami potensi sekaligus faktor risikonya menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan.